Blog pribadi bukan tempat buat diskusi. Isinya urusan hati jangan sampai keluar caci maki. Salam Panyoet!

Wednesday, September 26, 2012

Maenan Anak Jaman Sekarang : Tawuran

Dalam beberapa hari belakangan ini sering sekali terjadi hal yang tak terduga di dunia, baik yang sifatnya menyentuh agama (SARA) ataupun remaja. Sebagai remaja, ane sendiri agak aneh aja dengan kejadian yang menghebohkan akhir-akhir ini yaitu tawuran. nah, di media massa sendiri saat ini sering dibicarain masalah ini. Ini nih kronologis kejadiannya :
JAKARTA: Tawuran antara siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 6 dan SMAN 70 di bundaran Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2012, menyebabkan seorang siswa SMA 6 tewas. Inilah kronologinya berdasarkan keterangan resmi kepolisian:

- Lima murid SMA 6 makan gultik alias gulai tikungan.
- Tiba-tiba mereka diserang oleh sekitar 20 siswa SMA 70
- Kelima murid yang diserang kocar-kacir di kawasan bundaran Bulungan itu.
- Tawuran berlangsung singkat, sekitar 15 menit.
- Korban terluka bacok hingga tewas dari siswa SMA 6 bernama Alawi. Pelajar malang itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah, tapi nyawanya tak tertolong.

Gila aja, sampe ada yang merenggang nyawa. Apakah pelajar-pelajar sekarang tidak dibekali ilmu agama ya ? Hal ini kan bisa berakibat fatal, bukan hanya bagi si pelajar tapi juga sekolah. Yang Pelajar bisa dipenjara (kalau cukup umur *kayak nikah aja*) semantara nama sekolah ikut tercoreng dan di cap gak bisa bikin muridnya jadi terpelajar.

Orang tua si pelaku tawuran juga bakalan menjadi sasaran juga gan. Bayangin aja, mereka akan dituduh tidak bisa mengatur si anak. Tapi, bisa saja mereka ngeles dan berkata "Lha wong itukan karena faktor lingkungan sekolah".

Sekarang Tawuran sudah tidak bisa disebut sebagai hal yang biasa. Kejadian belakangan ini menempatkan tawuran menjadikan si pelaku sebagai penjahat dan pembunuh atau bisa dibilang ini merupakan tindak kriminal. Setidaknya ini membuat Pelajar menjadi rendah di mata masyarakat. Coba kita lihat anak jalanan. sekampung apapun mereka, tetap saja kalau memang mau nyari duit dia tidak akan mukul atau membunuh orang. Tapi, jika ada yang membunuh itu mah Oknum atau Sindikat.

Yang membingungkan lagi adalah, Tawuran ini terjadi di Ibukota Negara kita tercinta yaitu Jakarta. Di Daerah saja jarang terjadi hal ini, kalaupun ada tidak sampai memakan korban jiwa. Seringnya di daerah bukan pelajar yang tawuran tapi antar geng.

Kita juga tahu bahwa yang menjadi api penyulut tawuran merupakan hal sepele. Seringnya karena masalah ejek-mengejek yang mana biasanya kawan yang diejek akan mengadu kepada kawan yang lain dan mereka merasa bahwa gak pantas kawan mereka di hina dan kemudian terjadilah yang balas dendam dengan cara fisik. Dan anehnya yang jadi sasaran kemarahan mereka bukannya orang yang mengejek tapi siswa biasa yang tidak ada masalah dengan hal itu. Hanya dengan melihat simbol saja, arit bisa melayang ke leher orang tak berdosa. Ya, Arit. Mereka yang tawuran juga rasanya tidak enak hanya menggunakan tangan kosong untuk menghajar lawan mereka. Biar terlihat hebat mereka pun memakai tongkat, gir yang dibalut kain, sampai yang paling sadis adalah arit. Dari situ kita bisa melihat bagaimana moral anak muda bangsa kita diberangus oleh hal yang sepele. Ejek mengejek saja bisa mengundang maut, bagaimana yang lainnya.

Di umur yang masih belasan (13 sampai 17), remaja cenderung akan mudah terkontaminasi dengan hal-hal yang dia liat, dengar, serta yang dirasakan. apalagi pada umur segitu, kecendurungan ego yang sangat tinggi membuat mereka menjadi sok jagoan. Dan itu juga pernah saya rasakan dimana saya pengen menjadi yang terbaik dari kawan-kawan saya. Namanya juga pencarian jati diri. Keinginan merasakan bagaimana bisa dianggap hebat oleh orang lain adalah yang juga memicu hal tersebut terjadi.

Pelajar Indonesia memang saat ini tercoreng dengan kejadian ini. Cerminan orang luar terhadap pelajar kita jika melihat kejadian ini bisa saja berimbas kepada pemberian bea siswa kepada Indonesia. Bisa saja negara-negara luar tidak lagi memberi kuota bea siswa kepada Indonesia karena pengaruh pelajarnya yang super tidak bisa diatur.

Ya, Sekarang kita tidak hanya bisa berharap penuh kepada Orang Tua atau guru di sekolah. toh, mereka juga punya keterbatasan dalam mengawasi dan menjaga para pelajar. Mengontrol diri sendiri dengan tidak terkontaminasi hal-hal negatif bisa kita lakukan dengan bergabung dengan komunitas yang mempunyai hobi yang sama atau sering beribadah (bagi yang muslim sering-sering ngaji, itu bisa membuat hati kita tenang).

Yaudah sekian dulu tulisan kali ini. Harapan saya sebagai seorang pelajar juga, jangan sampai lagi terjadi korban jiwa dalam hal tawuran. Kalau mau jadi jagoan bukan dengan tawuran jalannya tapi dengan prestasi. Keep Smart In Everything Condition.








0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Recent Posts

Powered by Blogger.
Scroll To Top