Blog pribadi bukan tempat buat diskusi. Isinya urusan hati jangan sampai keluar caci maki. Salam Panyoet!

Wednesday, January 29, 2014

Cita-cita Disimpan atau Diumbar?

             Cita-cita adalah suatu kata yang sangat sering dijumpai oleh kita pada situasi apapun. Maknanya bisa sangat abstrak bahkan bisa tak disangka. Mari simak percakapan ini:
Guru: Anak-anak nanti besar mau jadi apa (Cita-cita)?
Anak TK 1: Pilot buk!
Anak TK 2: Presiden!
Anak TK 3:  Tentara!

            Jika kalian melihat percakapan tadi kalian pastinya bakal teringat dengan masa kecil kalian ketika TK dan diberondong oleh pertanyaan itu yang mana pertanyaan tersebut akan dijawab dengan jawaban yang pasaran mulai dari ingin jadi Presiden sampai Dokter.

            Yang anehnya adalah saat ini saya yakin masih banyak anak TK yang masih ditanyain hal tersebut oleh sang guru padahal itu juga adalah pertanyaan yang didapat oleh guru tersebut saat dia baru masuk TK.

            Mungkin mereka (anak TK) akan sangat senang untuk menjawab hal tersebut dan bahkan berlomba-lomba untuk menjawabnya tapi yang disayangkan mereka tidak tahu langkah kesana dimulai dengan penuh perjuangan dan suka duka dari bangku TK tersebut.

           Akan tetapi ini bukan menyangkut ada jenis pekerjaan atau cita-cita lain selain yang tercantum diatas dan bagaimana menjelaskannya kepada anak kecil. Hey guys that will waste a lot of time!

          Cita-cita bisa dibilang adalah rasa optimis yang cukup hebat untuk seseorang dalam membentuk dan mengejar masa depannya. Tapi sempat ada pertanyaan dipikiran saya yang sangat mengusik. Apakah Cita-cita itu harus disimpan atau diumbar agar semua orang tahu?

           Pertanyaan saya ini ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa anda dan saya serta seluruh orang umumnya dibangku TK seperti diawal tulisan dan juga tentang sinisnya serta tidak terbukanya pemikiran orang terhadap apa yang dibicarakan atau suarakan orang lain.

          So, lihatlah ketika ada seorang anak muda yang bersekolah di SMA jurusan IPA tapi punya cita-cita jadi Menteri Sosial. Kita bisa bayangkan dia akan dibully oleh kawan-kawannya yang merasa bahwa buat apa dia masuk jurusan IPA kalau mimpinya itu adalah bagian dari Ilmu Sosial yang bisa didapatkan di IPS.

          Saya yang kuliah di Ilmu Komunikasi mendapatkan ilmu bahwa Komunikasi Antarpribadi (Interpersonal) memiliki kiat-kiat yang akan membuat konteks komunikasi tersebut menjadi efektif dan salah satunya adalah keterbukaan.

          Apa kaitannya dengan Impian dan cita-cita? Cerita tentang anak muda yang suka akan IPA tapi punya cita-cita yang berkaitan dengan IPS dan kemudian dibully karena tidak ada kaitan sama sekali merupakan bentuk sinis dan keskeptisan yang terjadi di masyarakat kita. Coba saja anak muda tersebut tidak bilang kalau dia punya cita-cita sebagai Menteri Sosial tapi ketika dia meraihnya (jabatan tersebut) di masa depan pastinya tidak ada yang mengganggu gugat hal tersebut karena sudah terjadi. Tapi, jika dia mengucapkan hal itu maka orang-orang skeptis bakal mengganggunya dan berkata hal itu tidak akan dan tidak pantas buat dia karena tidak sesuai dengan apa yang dipunyainya (ilmu) saat ini.

          Orang-orang yang skeptis dan sinis bahkan nemesis seringnya akan menanamkan rasa takut akan kegagalan, keragu-raguan bahkan mengecam anda yang punya cita-cita yang menurut anda sesuai dengan anda karena hampir semuanya memiliki pikiran yang tertutup dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada bahwa seseorang bisa saja mempunyai mimpi yang berbeda dengan apa yang dikerjakan saat ini.

           Jika saat ini masih banyak orang yang skeptis dan sinis akan suatu hal, ada baiknya kita menyimpan impian atau cita-cita kita didalam hati atau hanya diberitahukan kepada orang terdekat kita saja karena mereka akan lebih mudah mendukung kita walau sangat berbeda dengan kenyataanya. Seperti kita ketahui orang terdekat kita terutama keluarga rela melakukan apapun untuk kita dan sangat mengerti kita.

           Tapi, kenyataannya banyak sekali kejadian seperti mengungkapkan cita-cita yang awalnya merupakan kegiatan optimis kemudian menjadi kegiatan pesimis ketika terlalu banyak gugatan dari orang lain yang tidak lebih mengerti kita ketimbang diri kita sendiri.

                Jadi, kita harus bagaimana? Menyimpan mimpi atau cita-cita itu untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat kita sehingga ketika terwujud tanpa perlu diungkapkan bakal diketahui orang lain? Atau Mengungkapkan impian kita kepada orang lain seperti biasanya dan bersiap menghadapi gangguan berupa kecaman yang malah merusak optimism kita?

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Recent Posts

Powered by Blogger.
Scroll To Top