Tanpa Judul!
Mungkin sampai saat ini aku memang tidak diijinkan Tuhan
untuk meraih siapapun dan menempatkan dia tepat disisiku. Mendampingi bahkan
menghiasi hariku. Kucoba renungi apa makna semua ini. Pastinya ada alasan
kenapa Tuhan membiarkanku tetap sendiri.
Usaha serta doa tak pernah lekang oleh waktu dan selalu aku
lakukan. Bisa saja Tuhan tidak mau hambaNya ini luka dan semakin terpuruk
ketika ada yang mendampingi. Tapi, bukankah dengan hadirnya si dia
mendampingiku malah membuatku semakin kuat menghadapi hidup ini? Salahkah aku
mencintai seseorang dan mengharapkan kehadirannya untukku? Atau mungkin aku hanya
bisa mencintai diriku sendiri saja?
Cinta, kenapa aku terkungkung lagi dalam kata “aku” saja. Tanpa
ada “dia” dan “kita”? bukankah dengan adanya dia berarti aku bisa berbagi suka
dan duka. Mempelajari asa tentang kebersamaan serta arti makna bercinta? Cinta,
apakah proses aku menemukan si dia butuh beribu tahun? Atau mungkin tak
kutemukan si dia selama di dunia ini?
Kata panggilanku kepadanya mungkin akan menjadi kenangan
saja. Kembali ku buka kotak berisi berjuta kenangan akan calon pendamping itu. Kubungkus
kenangan tentangmu dalam kain putih. Kain yang menurutku yang merupakan bentuk
peratapan kepadanya. Kesedihan bukanlah hal yang baik tapi bukan berarti itu
tak pantas buatku. Biarkan aku bersedih saat ini untuk menatap kesenangan di
waktu nanti.
Hari ini ternyata sama seperti hari-hari kala aku dekat
dengan semua si dia di masa laluku. Berat rasanya untuk melangkahkan kaki
menuju jalan baru tentang kebersamaan ketika seakan semuanya berasa hanya
berakhir dengan hampa walau usaha dan doa terus menemani. Ada baiknya kujalani
hari ku dengan begini adanya. Hingga memang waktu benar-benar memberi langkah
kepadaku menemukan si dia yang sebenarnya.
Untuk saat ini biarkan aku tidur dalam kubangan perasaan
yang mengharu-biru. Karena tak selamanya bersandar di awan yang cerah adalah
suatu kebiasaan. Tuhan, aku akan terus bermunajat kepadaMu memohon akan ada si
dia yang benar-benar menemani bukan sekedar membuat manis awalan dan memberi
pahit di akhiran.
Kututup hari ini dengan tulisanku akan kehidupan cinta ini. Mungkin
si dia yang telah disiapkan Tuhan tak sengaja membaca ini dan mencari aku. Toh,
dunia itu katanya sempit seperti daun kelor kan?
Bandung, 7 Maret 2015
0 comments:
Post a Comment