Tanda, Semiotika, atau Apalah Itu Namanya!
Kau kali ini memunculkan tanda tapi tetap saja tak pernah ada interaksi lagi antara kita. Apakah aku harus merangkai tanda-tanda itu sehingga bisa ada dialog yang tanpa suara antara aku dan kau. Seakan-akan aku bisa bercengkrama tanpa perlu adanya a,i,u,e,o?
Aku malas dengan semua semiotika
yang kau munculkan itu. Hari ini kau munculkan wajah yang tertawa. Esok kau
menampakkan muka yang bermuram durja. Mengapa? Mengapa harus ada misteri yang
sangat tidak bisa aku mengerti antara kita? tidak cukupkah menelan banyak tanda
hingga masuk ke perut dan membesar hingga meletus seperti maumu.
Cobalah mengerti akan maksudku. Kau
tiba-tiba ingin aku mendengar suaramu tapi harus menjawab apa makna dibalik
tanda yang kau munculkan. Ini membuat seakan-akan suaramu hanyalah hadiah dari
jerih payah memecahkan kode morse dari tentara yang bergelirya.
Sumpah lebih baik tidak usah saja
kutemui dirimu lagi. Letih rasanya berdiri didepan para tanda yang menanyai
arti mereka yang aku sendiri tak tahu apa-apa. Coba kau tebak tanda yang
kukirimkan ini? Selamat tinggal? Benar! Ini kado buatmu berisi lukisan
bergambar aku yang pergi menjauh darimu.
Bandung, 5 Maret 2015
0 comments:
Post a Comment