Pernahkah
anda membaca sebuah cerita yang dituliskan oleh seorang penulis besar baik itu
sebuah novel maupun cerpen? Pernahkah anda terkagum-kagum dan merasa tak
menyangka dengan epilognya? Pernahkah anda tertidur bersama buku novel atau
kumpulan cerpen yang anda senangi tersebut?
Jikalau
anda adalah seorang penggila buku terutama buku yang punya alur cerita rumit
layaknya novel atau sederhana seperti cerpen akan membayangkan sendiri kenapa
hal diatas sama seperti yang pernah kalian sendiri alami dulu ataupun sekarang
ini.
Teks yang
diketik dalam waktu lama, butuh pemikiran yang lugas dan harus pintar merangkai
kata-kata merupakan langkah-langkah untuk membuat anda kagum akan hal tersebut.
Tapi, yang menjadi pertanyaan apakah orang-orang yang membaca dan mengikuti
cerita yang diciptakan Tuhan bakal sama kagumnya terhadap rangkaian cerita itu
dan mengharapkan epilog yang sangat tak terduga?
Hei hei
wait a minute bro. Tuhan bukan novelis kan?
Pastinya
bukanlah. Tapi, kita ketahui sendiri apa yang dituliskan oleh Tuhan dalam
ceritanya lebih epic dan tak terbayangkan ketimbang cerita dari idola para
remaja yang haus akan roman penuh akan pengorbanan?
Apa yang
terjadi jika Adam dan Hawa tidak memakan buah Kuldi dan semua anak cucu manusia
pertama tersebut bakal sejahtera di Surga maka tidak akan ada yang namanya
pembunuhan pertama di dunia yang dilakukan oleh kedua anak Adam dan Hawa serta
dilanjutkan oleh hal-hal tidak baik lainnya didunia yang mana adalah lawan dari
kebaikan. Dipastikan tidak ada istilah agama yang beda, negara yang adidaya bahkan
tahta yang harus dikejar oleh semua orang dengan menggunakan berbagai cara yang
katanya ‘Halal’.
Tuhan yang punya Cerita.
Pernah dengar
istilah “Tuhan yang punya cerita, Kita yang menjalaninya, dan orang lain yang
mengomentari”? istilah yang memang kenyataannya begitu. Tapi, kasian buat orang
yang ngomentari cerita yang dijalankan oleh kita dan diciptakan oleh Tuhan
karena pada dasarnya dia akan merasakan hal tersebut juga yaitu dikomentari.
Tuhan
yang punya Cerita.
Hey guys,
masih banyak orang yang mengeluh akan jalan cerita yang sudah disiapkan Tuhan. Terkadang
mereka berharap bisa mengubah itu selayaknya revisi yang dilakukan oleh buku
bahkan mengubah prolog menjadi epilog, dialog menjadi judul dan pengantar
menjadi impresium yang malah mengacaukan jalan cerita yang seharusnya
mendapatkan akhir cerita yang indah walau awalanya tidak punya arah.
Tuhan
yang punya Cerita.
Sampai dimanakah
kita bisa memahami cerita yang dituliskan oleh Sang Pencipta Semesta? Apakah kita
hanya paham prolognya? Apakah kita masih abu-abu dengan dialognya? Atau sibuk
mencari tahu bagaimana jadinya epilog cerita kehidupan kita? Ya sekarang anda
dan saya punya tugas yang berat untuk bisa mengerti dan menjalani apa yang
disiapkan Tuhan disetiap paragraf, halaman bahkan bab tentang buku kehidupan
kita sendiri.
0 comments:
Post a Comment