Blog pribadi bukan tempat buat diskusi. Isinya urusan hati jangan sampai keluar caci maki. Salam Panyoet!

Friday, February 14, 2014

Delivery Ajah!



            Di perantauan seperti saya saat ini anak-anak rantau pastinya bakal kehilangan juru masak paling dahsyat yaitu mamak, ibu atau apapun sebutan kalian untuk yang melahirkan kalian ke dunia ini. Hal ini menyebabkan muncul banyak istilah anak rantau yang kesulitan ngurusin makanan: 
Pertama itu ada “The Nyari Man” ini adalah anak-anak rantau yang kalau lapar harus nyari makanan dengan cara keluar asrama, kos atau kontrakan dan biasanya sangat elit karena makanya bisa saja nasi padang L

Abis itu ada juga “The Delivery Mania” ini adalah anak-anak rantau yang males atau mager banget buat nyari makan keluar. Yang paling mereka tunggu-tunggu itu adalah brosur dari rumah makan terutama yang harga makanannya tidak ditambah dengan ongkir yang padahal Cuma seribu rupiah doing. 

Dan terakhir itu adalah “The Masak Nasi Sendiri tapi Lauk Tetap Beli Man” ini adalah anak-anak rantau yang misal tinggal di asrama atau kontrakan dan rame banget jadinya pada PT-PT buat beli rice cooker dan masak nasi sendiri dan disaksikan rame-rame sama kawan yang lain setelah itu beli lauk yang telor ceplok doang yang harganya 3 ribu doang dan kalau tak punya duit untuk beli lauk nasinya dikasih saus sambal botol plus kecap aja.

Tapi, sebenarnya saya tidak mau bahas semua ini lebih detil. Tadi itu Cuma mukadimah doang kok. Oya tadi ada kata Delivery kan? Awalnya saya dan kawan-kawan sekamar di asrama adalah “The Nyari Man” tapi dengan padatnya kuliah kampus dan pengennya di asrama saja karena adanya fasilitas wifi yang memadai dan mager banget akhirnya belakangan sering jadi “The Delivery Mania” namun pada akhirnya saya juga merasakan jadi “The Masak Nasi Sendiri tapi Lauk tetap Beli Man” dan itu buktinya dengan ada rice cooker di kamar dan dibeli dengan Pt-Pt.

Delivery itu adalah jasa antar ya bisa makanan atau barang tapi yang memang sering dialami kami-kami para rantau ya delivery makanan atau minuman.

Ketika saya dan kawan-kawan sering delivery, saya menyadari ada hal yang paling dan sangat unik dari delivery ini. Bayangkan ya jalur darinya delivery itu adalah kita sms, pesan makanan, mereka konfirmasi, kemudian kita senyum karena dikonfirmasi kemudian cek fb (oh salah), kemudian 10-20 menit dia sms mau nganter, kita menanti dengan was-was, dia membawa dengan was-wassalam (elah), kemudian dia sms bahwa udah di depan tempat tinggal kita, kita bergegas nyari duit (siapin receh bro), kemudian ketemu dia dan terjadi transaksi yang hampir mirip dengan transaksi narkoba karena tampang tukang delivery makanan rumahan itu pake jaket kulit hitam dan memakai penutup mulut, kita dapat makanan yang dipesan, masuk ke kamar dan kemudian buka bungkusannya, dan kecewa. Pesannya nasi goreng telor ceplok eh telornya dicampur ke nasinya. Kemudian marah-marah dengan tukang deliverynya via sms padahal memang kitanya yang lupa bilang masalah itu dan no kontak kita diblacklist oleh mereka.

Panjang banget tur -___- 

Tapi kenyataanya begitu. Anehnya adalah ketika kita yang delivery datengnya 2 jam setelah kita sms dan pas nyampe kita telat ngambil Cuma 15 menit dan dia ngambeknya minta ampun sambil maki-maki padahal seharusnya kita yang marah sambil maki-maki dan ambil makanannya, banting ke bawah, injek itu makanan, dan bilang “Ini kan gaya mu subur!!!!” oke cukup.

Entah kenapa saya mendapatkan filosofi yang menarik dari delivery bahwa delivery itu sebenarnya di kehidupan kita sehari-hari (diluar lingkup makanan dan minuman) sering kita lakukan tapi tanpa ada efek yang sangat baik buat kita maupun buat orang yang kita antarkan delivery tersebut.

Bayangkan pernahkah anda me-delivery pengetahuan kepada teman anda yang kerjaanya nanya mulu?  Banyak orang yang beranggapan ini orang bodoh banget nanya mulu, dan pasti banyak yang males ngajarinnya (delivery) ilmu kita kepada mereka karena gengsi. Bahkan ada yang lebih parah karena sangat pintar sekali mereka jadi menstrereotipkan bahwa “Ilmu yang gua dapat ya buat gua, ngapain gua sharing ke orang lain, ntar keenakan dianya gua capek-capek belajar dia dapet enaknya doang” ini berarti persepsinya udah keblok dan gagal mendelivery ilmunya.

Padahal seperti kita ketahui apa salahnya sih mendelivery ilmu kita ke orang yang belum paham tentang sesuatu hal. Padahal ilmu itu kalau disharingkan atau dibagi bukan mengurangi ilmu itu malah menambah nilai dari ilmu itu karena ada kemungkinan orang yang kita sharing ilmu itu akan memberikan ilmunya kepada kawan lainnya dan seterusnya sehingga kita seperti mendapatkan feedback tidak langsung berupa pahala dan kita makin pintar karena terus mengulang ilmu yang kita dapatkan dan membuat memori kita makin kuat Juga.

Sebenarnya saya ingin membahas lagi tentang delivery dalam sudut pandang yang lain tapi untuk satu tulisan ini cukup. Saya berpikir untuk membuat part keduanya deh hehehe. Ya itulah delivery mungkin menurut orang itu hal simple tapi menurut saya hal yang orang bilang simple pasti punya suatu makna terkandung didalamnya jika kita melihat lewat sudut pandang yang lain.

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Recent Posts

Powered by Blogger.
Scroll To Top