Di perantauan
seperti saya saat ini anak-anak rantau pastinya bakal kehilangan juru masak
paling dahsyat yaitu mamak, ibu atau apapun sebutan kalian untuk yang
melahirkan kalian ke dunia ini. Hal ini menyebabkan muncul banyak istilah anak
rantau yang kesulitan ngurusin makanan:
Pertama itu ada “The Nyari Man” ini
adalah anak-anak rantau yang kalau lapar harus nyari makanan dengan cara keluar
asrama, kos atau kontrakan dan biasanya sangat elit karena makanya bisa saja
nasi padang L.
Abis itu ada juga “The Delivery
Mania” ini adalah anak-anak rantau yang males atau mager banget buat nyari
makan keluar. Yang paling mereka tunggu-tunggu itu adalah brosur dari rumah
makan terutama yang harga makanannya tidak ditambah dengan ongkir yang padahal Cuma
seribu rupiah doing.
Dan terakhir itu adalah “The Masak
Nasi Sendiri tapi Lauk Tetap Beli Man” ini adalah anak-anak rantau yang misal
tinggal di asrama atau kontrakan dan rame banget jadinya pada PT-PT buat beli
rice cooker dan masak nasi sendiri dan disaksikan rame-rame sama kawan yang
lain setelah itu beli lauk yang telor ceplok doang yang harganya 3 ribu doang
dan kalau tak punya duit untuk beli lauk nasinya dikasih saus sambal botol plus
kecap aja.
Tapi, sebenarnya saya tidak mau
bahas semua ini lebih detil. Tadi itu Cuma mukadimah doang kok. Oya tadi ada
kata Delivery kan? Awalnya saya dan kawan-kawan sekamar di asrama adalah “The
Nyari Man” tapi dengan padatnya kuliah kampus dan pengennya di asrama saja
karena adanya fasilitas wifi yang memadai dan mager banget akhirnya belakangan
sering jadi “The Delivery Mania” namun pada akhirnya saya juga merasakan jadi “The
Masak Nasi Sendiri tapi Lauk tetap Beli Man” dan itu buktinya dengan ada rice
cooker di kamar dan dibeli dengan Pt-Pt.
Delivery itu adalah jasa antar ya
bisa makanan atau barang tapi yang memang sering dialami kami-kami para rantau
ya delivery makanan atau minuman.
Ketika saya dan kawan-kawan sering
delivery, saya menyadari ada hal yang paling dan sangat unik dari delivery ini.
Bayangkan ya jalur darinya delivery itu adalah kita sms, pesan makanan, mereka
konfirmasi, kemudian kita senyum karena dikonfirmasi kemudian cek fb (oh
salah), kemudian 10-20 menit dia sms mau nganter, kita menanti dengan was-was,
dia membawa dengan was-wassalam (elah), kemudian dia sms bahwa udah di depan
tempat tinggal kita, kita bergegas nyari duit (siapin receh bro), kemudian
ketemu dia dan terjadi transaksi yang hampir mirip dengan transaksi narkoba
karena tampang tukang delivery makanan rumahan itu pake jaket kulit hitam dan
memakai penutup mulut, kita dapat makanan yang dipesan, masuk ke kamar dan
kemudian buka bungkusannya, dan kecewa. Pesannya nasi goreng telor ceplok eh
telornya dicampur ke nasinya. Kemudian marah-marah dengan tukang deliverynya
via sms padahal memang kitanya yang lupa bilang masalah itu dan no kontak kita
diblacklist oleh mereka.
Panjang banget tur -___-
Tapi kenyataanya begitu. Anehnya adalah
ketika kita yang delivery datengnya 2 jam setelah kita sms dan pas nyampe kita
telat ngambil Cuma 15 menit dan dia ngambeknya minta ampun sambil maki-maki
padahal seharusnya kita yang marah sambil maki-maki dan ambil makanannya,
banting ke bawah, injek itu makanan, dan bilang “Ini kan gaya mu subur!!!!” oke
cukup.
Entah kenapa saya mendapatkan
filosofi yang menarik dari delivery bahwa delivery itu sebenarnya di kehidupan
kita sehari-hari (diluar lingkup makanan dan minuman) sering kita lakukan tapi
tanpa ada efek yang sangat baik buat kita maupun buat orang yang kita antarkan
delivery tersebut.
Bayangkan pernahkah anda
me-delivery pengetahuan kepada teman anda yang kerjaanya nanya mulu? Banyak orang yang beranggapan ini orang bodoh
banget nanya mulu, dan pasti banyak yang males ngajarinnya (delivery) ilmu kita
kepada mereka karena gengsi. Bahkan ada yang lebih parah karena sangat pintar
sekali mereka jadi menstrereotipkan bahwa “Ilmu yang gua dapat ya buat gua,
ngapain gua sharing ke orang lain, ntar keenakan dianya gua capek-capek belajar
dia dapet enaknya doang” ini berarti persepsinya udah keblok dan gagal
mendelivery ilmunya.
Padahal seperti kita ketahui apa
salahnya sih mendelivery ilmu kita ke orang yang belum paham tentang sesuatu
hal. Padahal ilmu itu kalau disharingkan atau dibagi bukan mengurangi ilmu itu
malah menambah nilai dari ilmu itu karena ada kemungkinan orang yang kita
sharing ilmu itu akan memberikan ilmunya kepada kawan lainnya dan seterusnya
sehingga kita seperti mendapatkan feedback tidak langsung berupa pahala dan
kita makin pintar karena terus mengulang ilmu yang kita dapatkan dan membuat
memori kita makin kuat Juga.
Sebenarnya saya ingin membahas lagi
tentang delivery dalam sudut pandang yang lain tapi untuk satu tulisan ini
cukup. Saya berpikir untuk membuat part keduanya deh hehehe. Ya itulah delivery
mungkin menurut orang itu hal simple tapi menurut saya hal yang orang bilang simple
pasti punya suatu makna terkandung didalamnya jika kita melihat lewat sudut
pandang yang lain.
0 comments:
Post a Comment