Blog pribadi bukan tempat buat diskusi. Isinya urusan hati jangan sampai keluar caci maki. Salam Panyoet!

Tuesday, January 20, 2015

Cerpen Perdana: Sandiwara



            
            Setelah sekian lama saya tidak pernah posting baru lagi di blog akhirnya setelah ngubek2 laptop malah nemu cerpen perdana saya. banyak juga sih cerpen lainnya yang memang masih mentah alias belum sama sekali selesai ataupun terputus ditengah-tengah. nah, saya mau share cerpen perdana saya berjudul 'Sandiwara'.

                                           Sandiwara


            “Dunia ini hanyalah panggung sandiwara ry”
            Begitu kata sahabat masa kecilku setelah aku selesai membaca running text sebuat stasiun TV yang isinya tentang konflik para elite Republik ini.
            “yah, kalau kamu sendiri tidak percaya itu aneh lah, kamu tau sendiri kan kalau di sandiwara atau drama semua ada konfliknya?” sambil meneguk kopi hitam Wendi melanjutkan kata-katanya.
            “terus ?” tanyaku dengan polos.
            “plot yang sering dibuat oleh semua elite Republik ini kebaca banget, kok awalnya berteman kemudian ada konflik tiba-tiba? Memang kamu tak merasa aneh?”
            “aduh kau masih saja membawa kata-kata plot, bentar lagi pasti dramaturgi atau mungkin watak” ingin kusumpal lubang telinga ku dengan kapas.
            Wendi terdiam, membalikkan badan dan sedikit menggelengkan kepada. Pikirku dia akan bersandiwara lagi. Memang gitu kan biasanya? Dia terkesan kesal tapi di sisi lain akan bersiap mengejutkan aku dengan tawa khasnya kalau dia sedang mengerjaiku. Malas sekali aku kalau harus berhadapan dengan aktor teater kampus itu.
            Aku masih menunggu gerakan dadakan yang akan dilakukannya sambil berhitung dalam hati sekalian membalas tawa renyahnya yang tidak bakal kulupakan itu. detik bergulir. Nafasku keluar dengan was-was dari mulut dan jantungku seakan menari mengikuti waktu itu. ah lama sekali kataku didalam hati. Kapan dia akan memalingkan wajahnya yang penuh tanda tanya itu.
            Berdiri, kemudian jalan menuju ruang tamu. Ya itu yang dilakukan oleh Wendi ketika aku dibelakangnya sudah seperti seekor kancil yang bersiap mengelak dari auman singa yang ingin memangsa.
            Ku tahu dia cuma menyatakan apa yang diinginkan tapi kenapa harus itu-itu lagi. Dunia ini panggung sandiwara. Kau mengulangnya setiap kali seperti sedang menyanyikan lagu yang kondang oleh God Bless dan rambut kribo Ahmad Albar menghiasi fikiran ku dengan sekelebat.
            Toh, kau masak tidak berpikir bahwa yang kukatakan tadi adalah sandiwara agar semua berjalan sesuai rencana. Kau menyampaikan pernyataan dan aku bantah dengan kata-kata ku. Bang! Muncullah konflik. Kenapa kau tidak menyadarinya hah?
            Kulangkahkan kakiku ke ruang tamu berharap kau tidak akan diam dan hanya melihatku seperti kau melihat para lawan antagonis di drama yang pernah kau mainkan. Aku masih ingat bagaimana mata sinismu dengan sadis melihat kepada lawan mainmu di drama minggu lalu ketika acara hari anti korupsi pada pelataran kampus. Mata itu, ah mengangguku. Seakan-akan hanya dengan matamu lawan main itu akan lupa dengan apa yang akan dikatakan dan aku bersiap jika memang aku juga akan merasakan itu nantinya.
            “hei wen, tidak seperti biasanya kau cemberut gini?”
            “apa?”
            “ya kau sedang mengetes aku lagi sebagai lawan mainmu sebelum tampil di drama selanjutnya? Kurasa itu sudah cukup bagus kok, kau memang aktor yang hebat”
            Pujian ku tidak bisa membendung wajah nya yang sangat tidak keruan itu. bahkan aku berpikir bahwa dia semakin mendalami karakternya. Atau aku yang salah bisa saja dia sedang berpikir dan menjawab kata-kata ku dengan jawaban yang magis. Seperti magis wajahnya yang bisa dengan mudah berubah sesuai karakter yang diinginkan. Bang! Kalau benar begitu muncul lagi konflik. Hahahaha aku ternyata bisa juga bersandiwara.
            Angin semilir lewat diantara ventilasi rumah menuju ruang tamu dengan suasana yang penuh teka-teki. Bunyi TV terus saja menghiasi rumah dengan kau dan aku saling berhadapan menanti adegan selanjutnya. Aku masih menunggu kata-katamu wen. Memang seorang aktor butuh waktu yang sangat cukup untuk mengingat kata-kata di naskah dan itu hal yang sering kau lakukan. Tapi, improvisasi lah sekarang ini kau beradegan dengan ku yang tak jauh beda dengan seorang penonton teater yang cuma tahu Happy Ending saja.
            “tahu tidak Gery?” tanya Wendi tanpa melihat wajahku
            “ya aku tahu beberapa hal tapi aku tidak bisa menebak apapun dipikiran kau”
            “bila aku mengusik mu beberapa waktu lalu dengan kata-kata yang sama dan kau rasa itu tidak cukup baik mungkin memang aku yang salah. Mencoba untuk membuat kau sama seperti aku mungkin hal yang buruk. Tapi setidaknya aku mencoba menjadi diri sendiri untuk tidak membohongi diriku bahwa apa yang aku tahu itu yang aku mau beritahu kepadamu. Cobalah kau lihat kalau Nia datang kepada kita dan bercerita betapa hebatnya dia ketika bernyanyi dengan falsetto yang sangat bisa dikuasai ataupun pitch control nya yang cukup bisa membuat kau dan aku bingung apa bedanya dia dengan penyanyi di luar sana. Dia bernyanyi dan mereka bernyanyi. Kau mungkin hebat dengan caramu berujar bahwa sejarah itu adalah hal yang tak akan lepas dari diri kita. Kau yang pintar akan sejarah menyinggung bagaimana tanggal-tanggal dikuasai oleh berbagai macam modus yang seakan aku bisa mengingat itu dengan mudah semudah aku menghapal naskah dari sutradara”. Ujar Wendi dengan panjang lebar.
            Aku mulai berpikir bahwa baik aku, Wendi bahkan Nia pun mempunyai watak yang sama yang ternyata malah lebih menghadirkan konflik. Seingatku perbedaan lebih bisa menghadirkan konflik. Lihat saja negeri yang katanya Bhinneka Tunggal Ika ini sangat beragam akan jenis kulturasinya. Sampai-sampai cara untuk bisa membuat konflik tinggal menubrukkan agama, suku dan ras. Dimensi beragam untuk seragam pasti membuat panik dan tak beraturan.
            Tidak pernah terpikir kalau memang akan kejadian seperti ini. Toh dari dulu juga semuanya berjalan dengan lancara sampai ketika aku, Wendi dan Nia sibuk dengan kegiatan masing-masing walaupun tetap kita bisa berkumpul. Bukannya kita punya background yang beda tapi kenapa masalah yang membuat kita malah berkonflik adalah hal yang sama. Ini bodoh. Ini tidak masuk akal. Semenjak kapan kesamaan malah membawa konflik. Apakah teori konflik dari persinggungan antara dua orang terhadap sebuah perbedaan sudah berganti? Semua terus kutanya dalam diri sembari melihat Wendi yang sudah sedikit tenang selesai mengutarakan apa yang ada dipikirannya.
            Jas Merah – jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah kata-kata dari pendiri bangsa. Tapi sampai saat ini sejarah yang selalu aku ingin pelajari kenapa redaksinya selalu tidak sejalan. Aku disuruh mempelajari tapi malah ada konflik batin. Jika ini dimaksud dengan konflik aku baru bisa terima dengan akal sehat. Atau mungkin seperti yang dialami oleh Nia ketika dia dibandingkan dengan penyanyi lainnya tentang betapa bedanya cara mereka bernyanyi dan itu pastinya membuat para juri yang menilai mereka pastinya akan terjadi konflik untuk memilih Nia.
            Berbeda baru konflik. Itu yang juga dipelajari oleh Wendi ketika bermain drama di kampus. Dia tahu dimana akan ada momen dimana tokoh protagonis akan tidak bisa menyatu dengan antagonis sehingga muncul konflik dan hadirlah penyelesaian. Ini lebih dari sekedar sandiwara. Ini lebih dari sekedar konflik. Ini semua membuat aku pusing dan terus bertanya. Bagaimana bisa?

30/06/14

1 comment:

Popular Posts

Recent Posts

Powered by Blogger.
Scroll To Top