Setelah sekian lama saya tidak pernah posting baru lagi di blog akhirnya setelah ngubek2 laptop malah nemu cerpen perdana saya. banyak juga sih cerpen lainnya yang memang masih mentah alias belum sama sekali selesai ataupun terputus ditengah-tengah. nah, saya mau share cerpen perdana saya berjudul 'Sandiwara'.
Sandiwara
“Dunia ini hanyalah panggung sandiwara ry”
Begitu kata
sahabat masa kecilku setelah aku selesai membaca running text sebuat stasiun TV yang isinya tentang konflik para
elite Republik ini.
“yah, kalau
kamu sendiri tidak percaya itu aneh lah, kamu tau sendiri kan kalau di
sandiwara atau drama semua ada konfliknya?” sambil meneguk kopi hitam Wendi
melanjutkan kata-katanya.
“terus ?”
tanyaku dengan polos.
“plot yang
sering dibuat oleh semua elite Republik ini kebaca banget, kok awalnya berteman
kemudian ada konflik tiba-tiba? Memang kamu tak merasa aneh?”
“aduh kau
masih saja membawa kata-kata plot, bentar lagi pasti dramaturgi atau mungkin
watak” ingin kusumpal lubang telinga ku dengan kapas.
Wendi
terdiam, membalikkan badan dan sedikit menggelengkan kepada. Pikirku dia akan
bersandiwara lagi. Memang gitu kan biasanya? Dia terkesan kesal tapi di sisi
lain akan bersiap mengejutkan aku dengan tawa khasnya kalau dia sedang
mengerjaiku. Malas sekali aku kalau harus berhadapan dengan aktor teater kampus
itu.
Aku masih
menunggu gerakan dadakan yang akan dilakukannya sambil berhitung dalam hati
sekalian membalas tawa renyahnya yang tidak bakal kulupakan itu. detik
bergulir. Nafasku keluar dengan was-was dari mulut dan jantungku seakan menari
mengikuti waktu itu. ah lama sekali kataku didalam hati. Kapan dia akan
memalingkan wajahnya yang penuh tanda tanya itu.
Berdiri,
kemudian jalan menuju ruang tamu. Ya itu yang dilakukan oleh Wendi ketika aku
dibelakangnya sudah seperti seekor kancil yang bersiap mengelak dari auman
singa yang ingin memangsa.
Ku tahu dia
cuma menyatakan apa yang diinginkan tapi kenapa harus itu-itu lagi. Dunia ini
panggung sandiwara. Kau mengulangnya setiap kali seperti sedang menyanyikan
lagu yang kondang oleh God Bless dan rambut kribo Ahmad Albar menghiasi fikiran
ku dengan sekelebat.
Toh, kau
masak tidak berpikir bahwa yang kukatakan tadi adalah sandiwara agar semua
berjalan sesuai rencana. Kau menyampaikan pernyataan dan aku bantah dengan
kata-kata ku. Bang! Muncullah konflik. Kenapa kau tidak menyadarinya hah?
Kulangkahkan
kakiku ke ruang tamu berharap kau tidak akan diam dan hanya melihatku seperti
kau melihat para lawan antagonis di drama yang pernah kau mainkan. Aku masih
ingat bagaimana mata sinismu dengan sadis melihat kepada lawan mainmu di drama
minggu lalu ketika acara hari anti korupsi pada pelataran kampus. Mata itu, ah
mengangguku. Seakan-akan hanya dengan matamu lawan main itu akan lupa dengan
apa yang akan dikatakan dan aku bersiap jika memang aku juga akan merasakan itu
nantinya.
“hei wen,
tidak seperti biasanya kau cemberut gini?”
“apa?”
“ya kau
sedang mengetes aku lagi sebagai lawan mainmu sebelum tampil di drama
selanjutnya? Kurasa itu sudah cukup bagus kok, kau memang aktor yang hebat”
Pujian ku
tidak bisa membendung wajah nya yang sangat tidak keruan itu. bahkan aku
berpikir bahwa dia semakin mendalami karakternya. Atau aku yang salah bisa saja
dia sedang berpikir dan menjawab kata-kata ku dengan jawaban yang magis.
Seperti magis wajahnya yang bisa dengan mudah berubah sesuai karakter yang
diinginkan. Bang! Kalau benar begitu muncul lagi konflik. Hahahaha aku ternyata
bisa juga bersandiwara.
Angin
semilir lewat diantara ventilasi rumah menuju ruang tamu dengan suasana yang
penuh teka-teki. Bunyi TV terus saja menghiasi rumah dengan kau dan aku saling
berhadapan menanti adegan selanjutnya. Aku masih menunggu kata-katamu wen.
Memang seorang aktor butuh waktu yang sangat cukup untuk mengingat kata-kata di
naskah dan itu hal yang sering kau lakukan. Tapi, improvisasi lah sekarang ini
kau beradegan dengan ku yang tak jauh beda dengan seorang penonton teater yang
cuma tahu Happy Ending saja.
“tahu tidak
Gery?” tanya Wendi tanpa melihat wajahku
“ya aku tahu
beberapa hal tapi aku tidak bisa menebak apapun dipikiran kau”
“bila aku
mengusik mu beberapa waktu lalu dengan kata-kata yang sama dan kau rasa itu
tidak cukup baik mungkin memang aku yang salah. Mencoba untuk membuat kau sama
seperti aku mungkin hal yang buruk. Tapi setidaknya aku mencoba menjadi diri
sendiri untuk tidak membohongi diriku bahwa apa yang aku tahu itu yang aku mau
beritahu kepadamu. Cobalah kau lihat kalau Nia datang kepada kita dan bercerita
betapa hebatnya dia ketika bernyanyi dengan falsetto yang sangat bisa dikuasai
ataupun pitch control nya yang cukup bisa membuat kau dan aku bingung apa
bedanya dia dengan penyanyi di luar sana. Dia bernyanyi dan mereka bernyanyi.
Kau mungkin hebat dengan caramu berujar bahwa sejarah itu adalah hal yang tak
akan lepas dari diri kita. Kau yang pintar akan sejarah menyinggung bagaimana
tanggal-tanggal dikuasai oleh berbagai macam modus yang seakan aku bisa
mengingat itu dengan mudah semudah aku menghapal naskah dari sutradara”. Ujar
Wendi dengan panjang lebar.
Aku mulai
berpikir bahwa baik aku, Wendi bahkan Nia pun mempunyai watak yang sama yang
ternyata malah lebih menghadirkan konflik. Seingatku perbedaan lebih bisa
menghadirkan konflik. Lihat saja negeri yang katanya Bhinneka Tunggal Ika ini
sangat beragam akan jenis kulturasinya. Sampai-sampai cara untuk bisa membuat
konflik tinggal menubrukkan agama, suku dan ras. Dimensi beragam untuk seragam
pasti membuat panik dan tak beraturan.
Tidak
pernah terpikir kalau memang akan kejadian seperti ini. Toh dari dulu juga
semuanya berjalan dengan lancara sampai ketika aku, Wendi dan Nia sibuk dengan
kegiatan masing-masing walaupun tetap kita bisa berkumpul. Bukannya kita punya
background yang beda tapi kenapa masalah yang membuat kita malah berkonflik
adalah hal yang sama. Ini bodoh. Ini tidak masuk akal. Semenjak kapan kesamaan
malah membawa konflik. Apakah teori konflik dari persinggungan antara dua orang
terhadap sebuah perbedaan sudah berganti? Semua terus kutanya dalam diri
sembari melihat Wendi yang sudah sedikit tenang selesai mengutarakan apa yang
ada dipikirannya.
Jas Merah –
jangan sekali-kali melupakan sejarah. Itulah kata-kata dari pendiri bangsa.
Tapi sampai saat ini sejarah yang selalu aku ingin pelajari kenapa redaksinya
selalu tidak sejalan. Aku disuruh mempelajari tapi malah ada konflik batin.
Jika ini dimaksud dengan konflik aku baru bisa terima dengan akal sehat. Atau
mungkin seperti yang dialami oleh Nia ketika dia dibandingkan dengan penyanyi
lainnya tentang betapa bedanya cara mereka bernyanyi dan itu pastinya membuat
para juri yang menilai mereka pastinya akan terjadi konflik untuk memilih Nia.
Berbeda
baru konflik. Itu yang juga dipelajari oleh Wendi ketika bermain drama di
kampus. Dia tahu dimana akan ada momen dimana tokoh protagonis akan tidak bisa
menyatu dengan antagonis sehingga muncul konflik dan hadirlah penyelesaian. Ini
lebih dari sekedar sandiwara. Ini lebih dari sekedar konflik. Ini semua membuat
aku pusing dan terus bertanya. Bagaimana bisa?
30/06/14
Lu ngapain tur?
ReplyDelete